Saat ini, coronavirus
telah memberikan ancaman yang besar bagi dunia termasuk Indonesia. Hal ini
membuat masyarakat semakin waspada dan mulai menjaga kesehatannya. Bahkan,
akibat coronavirus ini mengakibatkan Indonesia mengalami krisis kesehatan
global dan sosial ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pembatasan
sosial dan penutupan sekolah berdampak pada Pendidikan, Kesehatan mental, dan
akses ekonomi terganggu.
Pada situs
covid19.go.id, World Health Organization (WHO) menyebutkan, telah menemukan
varian omicron yang terjadi pada (24/11/21) dengan sebutan ilmiah B.1.1.529
yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan. Varian omicron itu sendiri dinyatakan
sebagai evolusi virus yang memiliki beberapa mutasi yang mungkin berdampak pada
penyebarannya, seperti mudah tersebar kepada siapa saja bahkan anak kecil dan
bisa menimbulkan penyakit berat.
Menteri
Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengkonfirmasi telah munculnya covid-19 berjenis
omicron masuk ke Indonesia yang terjadi pada (15/12/21). Varian covid omicron
diyakini bisa berkembang lebih cepat dari pada varian delta. Meski bergejala
ringan namun beberapa negara sudah mengkonfirmasi kematian pertama penyebab
covid omicron.
Antisipasi
dengan masuknya varian omicron ini menjadi salah satu langkah bagi masyarakat
dari upaya bela negara. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama serta
patuh terhadap peraturan yang dibuat mulai dari memperkecil mobilitas masyarakat,
peningkatan cakupan vaksinasi, mempertimbangkan peningkatan masa karantina
menjadi 14 hari jika omicron meluas dan tetap menggunakan level PPKM.
Pemberlakukan
Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menjadi
langkah pemerintah untuk mencegah penyebaran virus covid-19. Penentuan
level yang didasarkan pada standar WHO,
yaitu level yang sesuai dengan banyaknya kasus dari virus di setiap
tempat. Namun, penerapan PPKM tidak selalu berjalan dengan baik dan berdampak
pada ekonomi masyarakat. Seperti pendapatan usaha yang sulit memperoleh laba
dan bahkan banyak pegawai yang dipecat dikarenakan tidak mampunya perusahaan
menangani krisis ekonomi tersebut. Walaupun bantuan pemerintah tidak memberikan
efek perubahan yang baik pada kebutuhan masyarakat.
Menggalakkan
program vaksinasi menjadi langkah untuk pencegahan varian covid omicron, tidak
lain juga dengan vaksinasi untuk anak dibawah umur yang mulai diterapkan pada
awal bulan Desember. Tujuan dari
vaksinasi untuk memberikan kekebalan tubuh seseorang dan cepat melawan bakteri
atau virus penyebab infeksi dengan harapan menurunnya angka kesakitan dan angka
kematian.
Data dari Our
World in Data menunjukkan jumlah vaksinasi di Indonesia cukup tinggi dengan
minimal 1 dosis yang sudah mencapai 146.875.959 vaksin dengan jumlah populasi
53,7% dan vaksinasi dosis 2 sudah mencapai 103.098.857 dengan jumlah populasi
37,7% di Indonesia (15/12/21). Data tersebut sudah mencapai 70% vaksin yang
diberikan dari jumlah seluruh masyarakat Indonesia. Pemerintah yakin dengan
adanya program vaksinasi yang besar dapat mencegah covid omicron dan aktifitas
masyarakat dapat kembali normal.
Upaya
pencegahan dari virus omicron juga berpengaruh terhadap efek kecemasan, jika
skenario terburuk yang muncul dalam pikiran dan memunculkan kecemasan di masa
sekarang karena berita virus omicron, dapat dilakukan upaya untuk tidak terlalu
khawatir dan tidak mengonsumsi berita yang berlebihan. Sebagai contoh, hal
terburuknya adalah pengetatan pembatasan sosial, pikiran soslusi untuk
menghadapinya seperti mencari cara berkegiatan yang aman dan nyaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar